STRATIFIKASI SOSIAL DI NAGARI CANDUANG

OLEH:
ABDUL
AZIZ
16227/
2010
PENDIDIKAN
SOSIOLOGI ANTROPOLOGI
JURUSAN
SOSIOLOGI
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah
melimpahkan rahmat dan kurnia-Nya serta taufik dan hidayah-Nya, sehingga
penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah etnografi ini dengan judul “KEHIDUPAN TUKANG OJEK DI CENDRAWASIH, AIR TAWAR
BARAT ”.
Makalah ini ditulis dalam rangka sebagai tugas mata kuliah Etnografi
Indonesia. Terima kasih penulis ucapkan kepada dosen pembimbing dan rekan-rekan
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menyadari bahwa
makalah ini kurang dari kesempurnaan, oleh karena itu, kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi setiap
pembaca. Amiin yaa rabbal
aalamiin.
Padang,
25 Mei 2011
ABDUL AZIS
i
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar……………………………………………………………..……………
i
Daftar
Isi…………………………………………………………………… …………... ii
Bab I
Pendahuluan……………………………………………………………………… 1
1.1 LatarBelakang………………………………………………………………. 1
1.2 Permasalahan…………………………..…………………………………… 2
1.3 Tujuan……………………………………………………………………….. 2
1.4 Manfaat……………………………………………………………………… 2
1.5 MetodologiPenelitian……………………………………………………….. 3
1.5.1 Metode Studi Pustaka…………………………………………………. 3
1.5.2 Metode
Wawancara…………………………………………………… 3
1.5.3 Metode Observasi…………………………………………………….. 3
Bab II DeskripsiLokasiPenelitian………………………………………………….. … 5
2.1 Deskripsi Lokasi…………………………………………………………………….. 5
2.2 Ilustrasi Denah………………………………………………………………………. 5
Bab
III Pembahasan……………………………………………………………………...
6
3.1
Kehidupan tukang ojek di cendrawasih Air tawar barat……………… …. 6
3.2
Etika-etika dalam pelaksanaan ojek di cendrawasih....................................... 7
3.3
kehidupan sosial tukang ojek di cendrawasih………………………………. 8
Bab III
Penutup…………………………………………………………………………
10
DaftarPustaka………………………………………………………………………… 11
Lampiran……………………………………………………………………………….. 12
PedomanWawancara…………………………………………………………… 12 Foto-Foto……………………………………………………………………….. 13
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Semakin sulitnya kehidupan
ekonomi pada saat sekarang ini mengakibatkan orang akan melakukan apa saja yang
dapat mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari asalkan
halal. Berbagai macam profesi digeluti oleh masyarakat indonesia untuk
mendapatkan yang namanya uang agar dapat terus bertahan diera modrenisasi dan
globalisasi yang dihadapi untuk sekarang ini. Dimana tuntutan krhidupan yang
semakin hari semakin sulit danmencekik masyarakat. Apa-apa yang akan di beli
masyarakat harganya mahal-mahal. Mulai dari pekerja kasar sampai kepada
pejabat-pejabat negara yang dengan lengangnya menjalni kehidupan ini dengan
mudah tanpa melihat kepada fenomena yang terjadi pada masyarakat sederhana ke
bawah.
Tukang ojek sudah tidak aneh lagi kedengaranya
ditelinga kita ini. Tukang ojek adalah profesi yang lumayan memegang peranan
penting juga dalam kehidupan sehari-hari karena dengan jasa tukang ojek orang
dapat dengan cepat menuju tempat yang diinginkan. Tanpa di hantui dengan yang
namanya macet di kota Padang tepatnya. Tukang ojek adalah ptofesi yang
memerlukan kucuran keringan dan perjuangan untuk mengeluti profesi ini, bekerja
di bawah terik matahari berbeda dengan profesi supir angkot yang dapat
berlindung dari sinar matahari. Dalam makalah ini penulis meneliti tukang ojek
di cendrawasih, Air Tawar barat
Beberapa
faktor seperti meningkatnya tuntutan masyarakat akan angkutan, tidak
mencukupinya lapangan pekerjaan bagi sebagian anggota masyarakat, kurang
mencukupinya angkutan umum yang tersedia baik dari segi jumlah maupun
pelayanan, dan masih banyaknya lokasi-lokasi yang tidak terjangkau angkutan
umum yang resmi serta masih terdapatnya silih pendapat tentang keberadaan ojek;
melatar belakangi penulis untuk ingin lebih memahami masalah sosial tersebut.
Menulis tentang tukang ojek juga didorong oleh ketertarikan penulis, dimana
keberadaan ojek tetap dibutuhkan walaupun di beberapa jalan tertentu telah
tersedia angkutan yang resmi, sehingga menjadikan ojek secara normatif
melanggar. Sesungguhnya keberadaan ojek menjadi pesaing bagi angkutan yang
resmi maupun antar tukang ojek itu sendiri, karena ojek tidak diatur dalam
ketentuan perundang-undangan. Mereka sehari-hari begitu aktif mengantar
penumpang pada rute-rute angkutan resmi dengan memungut ongkos. Tidak seperti
angkutan resmi pada umumnya, tidak terdapat kewajiban membayar pajak bagi ojek
karena memungut biaya dari masyarakat. Untuk lebih jelasnya penulis menguraikan
pada bagian pembahasan.
1.2 Permasalahan
Permasalahan yang
diangkat dalam karya tulis (Etnografi) ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana kehidupan ekonomi
tukang ojek di cendrawasih, Air Tawar Barat? 2 Apakah etika-etika dalam
pelaksanaan ojek di Cendrawasih, Air Tawar barat?
3. Bagaimana
hubungan sosial tukang ojek dengan masyarakat sekitar?
1.3 Tujuan
Tujuan pembuatan karya tulis (Etnografi) ini adalah sebagai berikut:
- Menjelaskan kehidupan ekonomi tukang ojek di cendrawasih, Air Tawar Barat.
- Menjelaskan tentang etika-etika dalam pelaksanaan ojek pada tukang ojek di cendrawasih, Air Tawar Barat.
- Menjelaskan hubungan sosial tukang ojek di cendrawasih, dengan masyarakat sekitar.
1.4 Manfaat
Dengan adanya penulisan karya ini, penulis berharap karya
ini bermanfaat untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan pembacanya, juga
bermanfaat bagi masyarakat baik masyarakat dari kalangan bawah maupun bagi
kalangan atas, agar mereka yang kalangan atas dapat melihat bagaimana fenomena
yang terjadi pada masyarakat yang berprofesi sebagai tukang ojek, terutama
dalam hal publikasi dan dokumentasi. Serta dapat dijadikan sebagai pedoman oleh
pemerintah untuk memperhatikan bagaimana kehidupan masyarakat yang berprofesi
sebagai tukang ojek. Supaya kehidupan masyarakat yang berprofesi sebagai tukang
ojek mempunyai kehidupan yang lebih layak tepatnya tukang ojek di cendrawasih,
Air tawar barat.
1.5 Metodologi Penelitian
Untuk menunjang hasil observasi ini, penulis menggunakan
beberapa metode seperti metode studi pustaka, wawancara, observasi dan
investigasi.
1.5.1 Metode Studi Pustaka
Metode studi pustaka adalah metode yang digunakan untuk
mendapatkan pengetahuan (konsep dan teori) mengenai hal-hal yang dibahas dan
berkaitan dengan isi penelitian yang menyangkut masalah referensi dalam
pembuatan karya ini.
1.5.2 Metode Wawancara
Metode wawancara adalah metode yang dilakukan dengan
mengadakan wawancara kepada narasumber, masyarakat maupun orang yang
berhubungan dengan penelitian.
1.5.3 Metode Observasi
Metode observasi adalah metode yang dilakukan dengan
terjun langsung lapangan atau objek.
1.5.4 Investigasi
Investigasi adalah suatu penelitian atau observasi yang
dilakukan langsung oleh penulis bekerjasama dengan pihak-pihak yang berwenang
terhadap objek-objek yang diteliti oleh penulis.
1.6 Landasan Teori
Dalam kehidupan bermasyarakat
tentunya ada yang namanya interaksi soaial. Suatu proses interaksi didasarkan
pada berbagai faktor anatara lain: imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati.
Dengan faktor-faktor yang diatas dapat mempengaruhi hubungan tukang ojek dengan
masyarakat sekitar kampus baik dosen maupun mahasiswa dan staf-staf universitas
lainya.
Menurut Gillin dan Gillin, interaksi social merupakan
hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyakut
hubungan anatara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia maupun
orang perorangan dengan kelompok perorangan.Apabila dua orang bertemu,interaksi
social di mulai pada saat itu, mereka saling tegur menegur, berjabat tangan,
saling berbicara, aktifitas semacam itu merukakan bentuk-bentuk interaksi
sosial (soekanto,2009:55). Berarti dalam pelaksanaanya terjadinya interaksi antara tukang ojek
dengan pelangan sudah merupakan sebuah interaksi dimana disini terjadi saling
tegur sapa antara tukang ojek dengan pelanganya.
Dalam
proses pelaksanaan ojek adanya pos-pos atau pangkalan, ini juga dapat diartikan
bahwa tukang ojek ini secara tidak langsung membentuk kelompok sosial, menurut
Rolland L. Warred”kelompok social adalah suatu kelompok orang yang terdiri dari
dua atau lebih individu yang diantara mereka terjadi yag namanya interaksi yang
dapat di pahami oleh para anggotanya”
Menurut
F. Tonnis membagi dua kelompok social yakni paguyuban(gameinscaf) dan
patembayan(gaselscaf). Paguyuban yaitu kelompok social yang memiliki hubungan
atau ikatan batin yang murni dan bersifat alamiah dan kekal. Patembayan adalah
kelompok social yang bersifat pokok yang sifatnya sementara yang terbentuk
hanya pikiran belaka. Jadi kelompok yang terbentuk antara tukang ojek tadi
merupakan hubungan patembayan dimana diantara mereka memiliki hubungan batin
antara yang satu dengan yang lain.
BAB II
GAMBARAN BATAS
PENELITIAN
2.1 Deskripsi Lokasi
Untuk mendapatkan data yang akurat penulis melakukan
penelitian di sebuah pangkalan ojek di daerah Cendrawasih, Air tawar Barat.
|
|
||||||
S
Ket:
1=Lokasi Penelitian (pangkalan ojek)
2=Mini Market Yosi
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Kehidupan Ekonomi
Dengan melihat fenomena-fenomena yang
terjadi dewasa ini dan pada kenyataan yang ada, masalah ekonomi menjadikan
permasalahan yang semakin menyudutkan. Tingkat pengangguran semakin meningkat,
lapangan pekerjaan semakin sulit untuk dijangkau. Apapun pekerjaannya kadang
dilakukan asal menghasilkan uang. Dengan melihat perkembangan perekonomian
sekarang ini, tidak menutup kemungkinan manusia mencari pekerjaan tidak sesuai
dengan kemampuan maupun keahliannya. Hanya untuk menjadikan dapur mengepul dan
kesejahteraan manusia banting tulang mencari nafkah. Dengan melihat kenyataan
ini, berbagai masalah timbul di depan mata, pengangguran, tingkat kemiskinan
menjadikan sampul kehidupan manusia. Salah satu pekerjaan yang dapat kita lihat
yaitu profesi sebagai Tukang Ojek. Termasuk tukang ojek di daerah Cendrawasih, Air Tawar
barat.
Dengan melihat kehidupan di zaman
era-globalisasi ini, negara kita Indonesia sedang mengalami kondisi ekonomi
yang sangat buruk. Hampir sebagian masyarakat mengalami krisis moneter yang berkepanjangan.
Selain itu, tingkat pengangguran yang melonjak tinggi menyebabkan masyarakat
sulit bertahan hidup khususnya yang telah berkeluarga. Mereka yang telah
berkeluarga namun tidak memiliki pekerjaan dan pendidikan yang setara, sulit
untuk menafkahi anak dan istrinya. Tanpa pendidikan yang layak, kita tak akan
bisa bekerja pada profesi yang formal seperti bekerja di sebuah perusahaan dan
memiliki jabatan. Solusi terbaik bagi seseorang yang tidak berpendidikan adalah
dengan menjadi tukang ojek, ini merupakan profesi yang sangat mudah untuk mereka
kerjakan dan lakukan, bagi mereka-mereka tersebut.
Sekarang ini, profesi tukang ojek mulai mem-booming ketika krisis moneter merajalela. Banyak perusahaan terpaksa tutup dan mem-PHK karyawannya, banyak karyawan beralih kepekerjaan menjadi seorang tukang ojek. Untuk menjadi tukang ojek modalnya memang hampir nihil. Cukup memiliki sepeda motor bahkan, kalau tidak memilikipun bisa menyewa dari bandar ojek seharga sekitar Rp.25.000 sampai Rp40.000 /harinya. Selain itu, mudahnya mengajukan kredit motor juga menjadi alasan mengapa jumlah tukang ojek meningkat tajam. Menurut hasil penilitian yang dilakukan penghasilan mereka yang Rp. 25.000 sampai Rp. 40. 000 tadi, tidak mencukupi kebutuhan mereka mulai dari kebutuhan dapur sampai kepada kebutuhan sekolah anak-anak mereka. Inilah yang menjadi fenomena pada tukang ojek di Cendrawasih, Air Tawar barat. Bagi mereka penghasilan yang mereka dapatkan sudah mencukupi kebutuhanya tetapi untuk kebutuhan seklah anak mereka belum tercukupi, ada diantara mereka yang tak sanggup menyekolahkan anak mereka sampai ke tingkat yang lebih lajut, tetapi ada diantara mdreka yang mempunyai anak yang kuliah di perguruan tinggi itupun dari hasil beasiswa yang anak mereka dapatkan.
Sekarang ini, profesi tukang ojek mulai mem-booming ketika krisis moneter merajalela. Banyak perusahaan terpaksa tutup dan mem-PHK karyawannya, banyak karyawan beralih kepekerjaan menjadi seorang tukang ojek. Untuk menjadi tukang ojek modalnya memang hampir nihil. Cukup memiliki sepeda motor bahkan, kalau tidak memilikipun bisa menyewa dari bandar ojek seharga sekitar Rp.25.000 sampai Rp40.000 /harinya. Selain itu, mudahnya mengajukan kredit motor juga menjadi alasan mengapa jumlah tukang ojek meningkat tajam. Menurut hasil penilitian yang dilakukan penghasilan mereka yang Rp. 25.000 sampai Rp. 40. 000 tadi, tidak mencukupi kebutuhan mereka mulai dari kebutuhan dapur sampai kepada kebutuhan sekolah anak-anak mereka. Inilah yang menjadi fenomena pada tukang ojek di Cendrawasih, Air Tawar barat. Bagi mereka penghasilan yang mereka dapatkan sudah mencukupi kebutuhanya tetapi untuk kebutuhan seklah anak mereka belum tercukupi, ada diantara mereka yang tak sanggup menyekolahkan anak mereka sampai ke tingkat yang lebih lajut, tetapi ada diantara mdreka yang mempunyai anak yang kuliah di perguruan tinggi itupun dari hasil beasiswa yang anak mereka dapatkan.
3.2
Etika Dalam Pelaksanaan Ojek
Siapa
yang tidak mengenal profesi tukang ojek, di kota besar seperti di Padang, maupun di kampung-kampung hampir semuanya
terdapat tukang ojek. Tukang ojek sangat membantu kita mengejar waktu untuk
tiba di tempat tujuan karena kondisinya yang memungkinkan untuk tetap berjalan
di sela-sela kemacetan. Bahkan ada tukang ojek yang “stand by” di pangkalan sampai
larut malam. Tukang ojek yang baik mempunyai etika yang tertulis maupun tidak
tertulis.
Ada beberapa Etika
sebagai tukang ojek, yaitu :
1.
Memiliki
SIM
2.
Menggunakan
helm dan menyediakan helm bagi penumpang
3.
Mengendarai
motor dengan tertib
4.
Mematuhi
rambu lalu lintas
5.
Memiliki
pangkalan yang tetap agar tidak berkerumun di sembarang tempat
Pada pengojek di Cendrawasih umumnya mereka
membentuk paguyuban ataupun kelompok. Yang sering kita jumpai pos-pos ojek
dimana pos-pos tersebut ada yang resmi dan tidak resmi,yang ada di cendrawasih
ini adalah pangkalan ojek yang tidak resmi berdasarkan data yang didapat
penulis, tetapi tidak ada yag menggugat selama pangkalan ini berdiri, tetapi
keduanya hampir sama dengan pembagian kerjanya karena dalam melakukan
aktivitasnya tukang ojek di Cendrawasih, Air Tawar Barat memiliki pola tertentu
seperti dengan tingkat rutinitas yang tinggi yaitu pola satu putaran mulai dari
pagi sampai sore, atau dengan pola beberapa putaran yakni 1-2 hari dengan
pulang satu kali. Kadangkala, persepsi tentang tukang ojek selalu negatif.
Persepsi tersebut nantinya kita anggap sebagai penyimpangan dari profesi
sebagai tukang ojek.misalnya saja, fenomena tentang pangkalan ojek. Ketika
penumpang ojek sepi kadang kala Tukang ojek menjadi propokator dalam hal tidak
inginkan ada aktivitas yang dilakukan tidak ada, maka mereka mencari aktivitas
yang menurut kita sungguh meresahkan. Aktivitas itu meliputi berjudi di
pangkalan, minum-minuman keras, pembunuhan, pemerkosaan dan tabrakan.
Tanpa harus mengurangi jam kerja mereka, maka
aktivitas seperti itu justru disenangi. Sambil menunggu giliran penumpang para
tukang ojek berjudi. Sebenarnya, tukang ojek itu bekerja untuk mencari uang
halal tetapi mereka menyalahgunakan kesempatan tersebut bahkan, hasil dari
ngojeknya itu digunakan untuk berjudi bukan untuk menafkahi keluarganya. Itulah
yang mereka tuturkan dan keluhan mengenai anggapan orang menggenai tukang ojek.
Kegiatan para tukang ojek yang seperti inilah yang wajib di tumpas, di beri sanksi dan kalo perlu diberi pengarahan. Sanksi yang patut diberikan seperti diberi tugaran dan di laporkan ke pihak yang berwajib. Pemerintah seharusnya peka dan tidak membiarkan hal ini semakin merajalela. Ambil saja contoh instansi kepolisian, seharunya pihak instansi tersebut memberikan pengarahan kepada tukang ojek sehingga mereka menjadi profesi ganda yang semakin disukai dan digemari dengan alasan menambah pemasukan sehingga tukang ojek tidak berpangku tangan dengan menghadapi sepinya penumpang. Sebenarnya masih banyak hal yang harus dikerjakan untuk mencari pekerjaan sampingan guna untuk menambah penghasilan tiap harinya baik secara formal maupun informal. Cara pandang tukang ojek harus diubah sehingga pekerjaannya mulia dimata Sang Pencipta dan Khalayak Umum.
Kegiatan para tukang ojek yang seperti inilah yang wajib di tumpas, di beri sanksi dan kalo perlu diberi pengarahan. Sanksi yang patut diberikan seperti diberi tugaran dan di laporkan ke pihak yang berwajib. Pemerintah seharusnya peka dan tidak membiarkan hal ini semakin merajalela. Ambil saja contoh instansi kepolisian, seharunya pihak instansi tersebut memberikan pengarahan kepada tukang ojek sehingga mereka menjadi profesi ganda yang semakin disukai dan digemari dengan alasan menambah pemasukan sehingga tukang ojek tidak berpangku tangan dengan menghadapi sepinya penumpang. Sebenarnya masih banyak hal yang harus dikerjakan untuk mencari pekerjaan sampingan guna untuk menambah penghasilan tiap harinya baik secara formal maupun informal. Cara pandang tukang ojek harus diubah sehingga pekerjaannya mulia dimata Sang Pencipta dan Khalayak Umum.
3.
Hubungan Sosial
Dalam
pelaksanaan ojek tentunya tukang ojek melakukan yang namanya interaksi dengan
mayarakat di sekitaran Cendrawasi, Air Tawar barat, baik itu dengan siswa,
mahasiswa, guru, dosen serta dengan masyarakat umum. Hubungan social yang
terjalin hanya bersifat sementara selama penumpang masih berada di atas motor
tukang ojek, dimana terjadi saling kontak antara tukang ojek dengan
penumpangnya.
Pandangan
orang tentang tukang ojek yang menganggap tukang ojek itu kasar, tidak
bermoral,kriminalitas itu hanya pandangan orang yang salah terhadap tukang
ojek, itu tergantung kepada individu tukang ojek itu sendiri, memang ada yang
bersifat seperti anggapan-anggapan orang terhadap tukang ojek tadi. Tetapi
tidak semua tukang ojek mempunyai sifat seperti anggapan masyarakat, ada juga
yang memiliki sifat yang baik dan bermoral. Jadi hubungan antara tukang ojk
dengan masyarakat sekitar hanya bersifat sementara dan hubungan yang terjalin
cukup harmonis dan saling menjaga antara satu dengan yang lain. Ada kalnya
konflik itu dapat terjadi antara tukang ojek dengan masyarakat, tetapi konflik
yang terjadi tidajk terlalu penting karena hubungan mereka hanya sebatas
penumpang dengan sopirnya.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Dengan melihat kehidupan di zaman era-globalisasi
ini, negara kita Indonesia sedang mengalami kondisi ekonomi yang sangat buruk.
Hampir sebagian masyarakat mengalami krisis moneter yang berkepanjangan. Selain
itu, tingkat pengangguran yang melonjak tinggi menyebabkan masyarakat sulit
bertahan hidup khususnya yang telah berkeluarga. Mereka yang telah berkeluarga
namun tidak memiliki pekerjaan dan pendidikan yang setara, sulit untuk
menafkahi anak dan istrinya. Tanpa pendidikan yang layak, kita tak akan bisa
bekerja pada profesi yang formal seperti bekerja di sebuah perusahaan dan memiliki
jabatan. Solusi terbaik bagi seseorang yang tidak berpendidikan adalah dengan
menjadi tukang ojek, Kehidupan tukang ojek tetapi tidak terlalu memberikan
jaminan penghasilan kepada mereka.
Dalam pelaksanaanya terdapat etika-etika yag harus di penuhi oleh tukang ojek
dan hubungan antar tukang ojek dengan masyarakt sekitar hanya bersifat
sementara.
4.2
Saran
Selama
ini terdapat anggapan-anggapan yang negative terhadap tukang tukang ojek, maka
penulis berharap agar masyarakat menghilangkan anggapan yang tidak baik tadi .
sebaiknya pemerintah melihat masyarakat
bawah Yang berprofesi sebagai tukang ojek.
DAFTAR
PUSTAKA
Soekanto, Soerjono. 2009. SosiologiSuatuPengantar.
Jakarta: Rajawali Press.
LAMPIRAN
- Pedoman wawancara
Pertanyaan kepada
anggota sekaligus pangkalan ojek Cendrawasih, Air Tawar Padang/?
1. Berapa
rata-rata penghasilan sehari-hari?
2. Bagaimana
kehidupan ekonomi bapak?
3. Bagaimana
hubungan tukang ojek disini dengan masyarakat dsetempat?
4. Bagaimana
etika dalam ojek?
5. Apa
saja syarat-syarat menjadi tukang ojek?
6. Bagaimana
para tukang ojek disini menyikapi konflik-konflik yang sering timbul?
7. Berapa
orang anggota ojek disini per hari?
8. Bagaimana
sistim ojek disini?
9. Apa
pendapat bapak tentang perekonomian di Indonesia?
10. Bagaiman
bapak menyikapi kekurangan-kekurangan dalam kehidupan bapak?
- Data informan
Nama : Suprianto
Tempat/tanggal
lahir : Padang /22 juli 1982
Umur : 29 tahun
Jabatan : Anggota sekaligus
Ketua Pangkalan Ojek
- Foto-Foto

Gambar 1. Para tukang ojek sedang
menunggu penumpang.

Gambar 2. Seorang tukang ojek sedang
menikmati sebatang rokoknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar